Jumat, 21 September 2018


Gading-Gading Ganesha
Bahwa cinta itu ada


“Berlian yang indah membutuhkan tangan yang piawai untuk merawatnya. Bakat yang luar biasa membutuhkan institusi berepitasi untuk mendidiknya.” __Dermawan Wibisono\
Novel ini dibuat  sebagai salah satu persembahan sang penulis untuk kampus tercintanya yang telah memberikan begitu banyak ajaran baik dalam akademik maupun ajaran tentang kehidupan. 


Novel ini menceritakan tentang enam anak muda dari berbagai daerah di Indonesia. Slamet dari Trenggalak, Plotak dari Pematang Siantar, Ria dari padang , Benny dari Jakarta, Gun Gun dari Ciamis dan Fuad dari Surabaya. Mereka dipersatukan dalam sebuah persahabatan dikampus Jalan Ganesha, Institut Teknologi Bandung. Bersama-sama mereka mulai mengayungkan langkah penuh idealisme dan cita-cita.
Bertahun-tahun anak-anak muda dengan latar budaya dan sosial ekonomi yang berbeda itu mengalami berbagai suka duka di kampus. Banyak kejadian-kejadian lucu, seru dan mengharukan yang mereka lalui bersama, mulai dar kekonyolan-kekonyolan khas mahasiswa baru, persaingan cinta di antara mereka. Hingga keteribatan dengan gerakan mahasiswa yang menentang rezim politik yang represif semua itu semakin mempererat ikatan persahabatan di antara mereka.
Waktu berlalu begitu cepat dan satu oersatu merekapun lulus. Selepas ITB, mereka menjalani kehidupan masing-masing : menjadi dosen di almamater, pemusik, pengusaha dan lain-lain. Berbagai kenyataan hidup menhadang mereka mulai dari cinta, godaan materi, dan cobaan mempertahankan idealisme. Setelah bertahun-tahun, mereka bertemu kembali.

begitulah sekiranya gambaran yang diberikan Oleh sang penulis dalam novelnya yang berjudul Gding-Gading Ganesha ,  Dermawan Wibisono. semoga dengan membaca novel ini semakin banyak mahasiswa yang berprestasi dan mampu mengembangkan kemampuannya dalam nal positif dan dapat menjadi generasi muda yang bermanfaat mewujudkan cita-cita bangsa dan pahlawan Indonesia dulu dan untuk masa yang akan datang.
sebagai mahasiswa kita harus berbenah diri dan mampu mengontrol segala hal yang benar-benar mampu menjerumuskan kita kepada jurang kehancuran yang akan menghambat mimpi kita.

FOSTERING CRITICAL THINKING SKILL TROUGH ARGUMENTATIVE WRITING
Susana Widyastuti

Abstract : the urgency for development srudents’ critical thingking (CT) abilities has left English as a foreign Language (EFL) teachers trying hard to integrate CT into their teaching practies. This study highlights how the elements of CT are displayed in students’essay written by the fourth semester Indonesian student taking essay writting course. The analysis is based on stapleton’s criteria of CT (2001).
INTRODUCTION
This study seeks to foreground the interconnections between critical thinking and language. The close correlation between thinking (cognition) and language development has long been recorgnized by scholars and educators, because it is trough language people come to know the world and express what they think about. It is particularly relevan for argumentative writing in the English as a foreign Language 9EFL) context because to make an argumentative writing people need to have both higher-order thingking skills and higher levels of foreign language proficiency (see A tkinson, 1997 : Chamot. 1995 Travin & Al-Arishi, 1991)
Critical thingking has been widely consi dered as an essential skill in the qwenieth century can particularly in the area of language education. Altough CT itself is a complex concept and is not easy to difine. It is an identife able thinking skill and thus can be practiced. Facione defines critical thingking as “purposeful, self regulatory judgment that result in interperetasion analysy, evaluation and inference as well as explanation of the evidintial conceptual, metholodological, criticalogical, or contextual considerations upon wich that judgment is based” (1990,. P.8)
METHODS
                The setting of the study is an essay writing course take by the 4th smester  student of the English literature study program. The language of instruction is English language levels and abilitiea vary and they frequently lack of confidence. This situasion is similary described in as study by Tsui (1996) wich also reveals that the cause is the lack of opportunitiesand willingness to use English in everyday context.
The data were the collection of students argumentative essays. The course ran for 16 weeks wisch were used mostly for writing practices. Each week students attend 2 classes wich ran for 100 minutes each. In wich lecturer talked to students intensively to discuss and give feedback to their writing. Such method was intended to stimulate students’ writing productivity and improve their confidence in writing , both in the conent and language aspects the feedback and evaluations focused on the writing progress by paying attention to each CT elemnt.


 http://dx.doi.org/10.21831/cp.v37i2.20157





Kamis, 06 September 2018

novel Percobaan Setis


Percobaan setia
Karya Suman Hs
Suman HS asalah seorang diantara pengarang-pengarang prosa zaman baru indonesia yang mempunyai kedudukan tersendiri. Ia lahir di bangkalis tahun 1904. Pada tahun 1930 ia menjadi Kepala Inspeksi Sekolah Rakyat Pekan Baru. Ia selalu menggunaka bahasa segar dan penuh humor dalam setiap karya tulisnya. Ia masih menggunakan bahasa melayu lama namun bahaanya telah jauh berbeda dari pengarang sebelumnya. Percobaan Setia adalah salah satu dari empat buku yang sudah diterbitkannya. Empat buku itu antara lain .
1.       Percobaan Setia
2.       Mencari Pencuri Anak Perawan’
3.       Kawan Bergelut
4.       Sajak-Sajak dalam majakah Pujangga Baru
Buku ini menceritakan kisah Seseorang bernama Syamsudin yang telah ditinggal bapaknya sejak kecil. Ia tinggal bersama ibunya sebagai seorang penjahit. Layaknya anak kecil ada umumnya ia senangbermain dan mengaji bersam teman-temanya. Teman-temannya memanggilnya Syamsyu Walyatim. Yang artinya adalah samsyudin seorang anak yatim. Meski tak pernah mengenal sosok ayah Syam tetap tumbuh menjadi anak yang baik dan patuh kepada ibunya. Ia sangat menyayangi ibunya, bahkan sering ia tak tega melihat ibuny akelelahan bekerja seharian
Setelah umurnya genap 8 tahun ibuny memutuskan untuk menikah kagi. Syam yang masih polos tak tau menau jika ia akan memiliki ayah tiri dan ia barum paham setelah usianya genap dua belas tahun. Beberapa tahun setelah menikah Syam dan ibunya beranjak meninggalkan kampung halaman mereka menuju kampung bapak Tirinya di Taratakbuluh. Ayah tiri Syam memiliki sebuah kedai yang selalu ramai setiapharinya.
Dua tahun berlalu Syam beranjak dewasa dan mulai menganal cinta. Ditemuinya seorang gadis yang ia tolong sewaktu ada kebakaran. Haji Salwiyah namanya. Seorang gadis yang pipinya ia cium ketika terjadi kebakaran didalam rumah gadis cantik itu. Syam yang memadamkan api dirumah haji Salwiyah dan dari situlah mulai tumbuh cinta diantara mereka yang dibuntuti restu kedua orang tua mereka. Namun sebelum mereka menikah Syam diminta menyeimbangkan dirinya dengan Salwiyah. Karena Salwiyah sudah berhaji maka Syam sebaiknya memiliki gelar haji pula. Dengan berat hati Syam meninggalkan pujaan hatinya dan berlayar  ke mekkah. Dirasa berat sekali perpisahan keduanya itu.
Ditengah perjalanan ia bertemu dengan kharibnya Jamin, Jamin adalah sahabat Syam. Jamin pernah menikahi seorang wanita namun bercerai karena materi. Setelah lebih dari sebulan sampailah Syam di tanah suci Mekkah. Dan segeralah ia menunaikan ibadah haji. Dalam perjalanan pulang dan ia mengalami kecelakaan. Kereta kuda yang ditumpanginya tersungkur akhirnya terpaksalah Syam berbaring dirumah sakit bersama Abdulfattah seseorang yang dikenalnya diperjalanan Pulang.
 Syam mengalami luka yang cukup parah kaki dan tangannya patah sedangkan Abdulfattah hanya mengaami sedikit luka dibagian pelipisnya. Akhrnya Abdulfattah pulang mendahulaui Syam dan memberikan kabar kepada keluarga Syam dirumah. Beberapa hari kemudian Abdull mengirimkan surat kepada Syam yang isinya memberitahukan keadaan keluarga Syam dirumah yang baik-baiksaja. Membaca surat itupun Syam merasa lebih lega. Beberapa hari kemudian datanglah surat kedua, yang memberitahukan kepada Syam bahwa keluarga Syam tida bisa membesuk Syam dirumah sakit karena Salwiyah mengalami sakit keras.
Tapi kenyataannya adalah Abdulfattah seorang penipu. Dia mengarang cerita kepada keluarga Syam dimalaha. Dia berkata kepada Keluarga Syam jika Syam telah meninggal dunia dan jasadnya disemaymkan dilautan. Hal ini diketahui setelah Jamin mendapati Syam dirumah sakit. Adbdulfattah berbohong karena ia ingin menikahi Salwiyah.